Belajar Tentang Kehidup Dengan Filosofi Kehidupan Pensil

Dunia Ilmu- Siapa yang tidak mengenal “Pensil”. Pensil merupakan sebuah alat tulis yang biasa kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun Saat sekarang ini kepopulerannya sudah mulai dikalahkan oleh “Pena” dan juga “Teknologi”. Namun, meskipun kepopulerannya sudah dikalahkan. Kita tetap dapat melihat dan belajar dari “Pensil” tersebut. Apa yang dapat kita pelajari dari sebuah “Pensil”? Berikut saya akan memaparkan pelajaran apa yang dapat kita pelajari dan teladani dari sebuah “pensil”
Belajar Tentang Kehidup Dengan Filosofi Kehidupan Pensil

A. Rela Bekorbaan Untuk yang Lainnya

Pelajaran pertama yang dapat kita ambil dari pensil ialah sikap rela bekorbannya. Banyak di kehidupan sekarang orang yang tidak ingin berkorban demi orang lain. Mereka lebih mementingkan diri mereka sendiri dan kesuksesannya sendiri. Namun itu sangat bertolak belangk dengan filososi kehidupan pensil.

Pensil digunakan seseorang untuk menulis dan umumnya banyak digunakan di dunia pendidikan. Di Indonesia sendiri, anak-anak SD biasanya tidak lansung diperbolehkan menulis menggunkan pena, melaikan harus menggunkan pensil. Kenapa hal tersebut diberlakukan? Jawabannya seudah jelas, yaitu agar tulisan anak yang salah bisa diperbaiki.

Lalu dimana sifat rela bekorban dari sebuah pensil yang dapat kita pelajari dan kita teladi? Yaitu ketika sang pensil yang mau dirinya di raut dan digunakan. Ketika dia digunakanpun, goresannya juga belum tentu dihargai. Ada dari mereka yang menghapus goresan dari sang pensil hanya karena kesalahan mereka sendiri. Namun sang pensil sendiri tidak pernah protes akan hal ini. Bukan karena dia tidak bisa berbicra, namun karena dia tahu akan tugasnnya. Bahkan ketika dia habispun dia tidak akan menyesal, hal ini disebabkan dia merasa hidupnya telah berguna. Sehingga dia habis dengan rasa bangga.

Lalu, pada siapa kita dapat melihat sifat pensil ini? Apakah benar ada orang yang bersikap seperti pensil dalam kehidupan nyata? Bukankah hal itu mustahil. Karena tidak mungkin ada orang yang mau menghabiskan tubuhnya untuk orang lain. Namun, jawaban itu tidaklah mustahil, karena ada orang yang dikehidupan nyata ini yang bersikap seperti pensil. Siapa oranngnya???

B. Adakah Yang Bersikap Seperti Pensil??

Pertanyaan yang seharusnya dilontarkan disini bukanlah “Apakah ada orang yang bersifat seperti pensil”. Namun apakah anda sanggup bersikap seperti pensil dalam kehidupan.

Jika anda ingin tahu, apakah ada orang yang bersikap seperti pensil, maka jawabannya ada dan pasti ada. Lalu siapakah oranggnya? Orang yang bersikap seperti pensil dan dapat anda lihat yang pertama sekali yaitu sikap “Orang Tua yang Menyayangi Anaknya”. Cobalah anda perhatikan dan anda lihat dengan seksama, benarkah orang tua anda bersifat seperti pensil. Jika kita berfikir sejenak dan mengingat-ingat sikap orang tua kita maka kita akan merasa bahwa orang tua kita bersikap seperti pensil kepada kita.

Dimulai sejak kecil, orang tua kita telah menanggung beban untuk kita sendiri. Terlebih lagi ibu yang menanggung rasa sakit untuk melahirkan anaknya. Ketika kita beranjak dewasa, orang tua kita berusaha memberikan kita asupan makan dan gizi yang cukup. Mungkin bagi anda yang hidup dalam kecukupan tidak akan terlihat kelelahan yang ditanggung orang tua anda. Namun dibalik itu semua ada beban yang mereka simpan agar anaknya tidak mengetahuinya. Begitu hebat orang tua

Ketika kita mulai beranjak remaja, maka kebutuhan kita anda semakin bertambah. Namun apa yang terjadi? Apakah anda merasakan banyak kekurangan, jawabannya tidak mungkin. Ketika kebutuhan anda mulai bertambah, maka usaha orang tua anda juga akan bertambah. Agar apa? Agar anaknya tidak kekurangan seperti dia. Bahkan dalam kasus ini ada orang tua yang tidak makan demi anaknya makan. Begitulah pengorbanan orang tua.

Beranjak dewasa, kebutuhan anda bertambah besar lagi. Namun orang tua akan selalu berusaha untuk memenuhi apa yang anda mau. Sukur-sukur anda sudah bekerja, anda dapat memenuhi apa yang ada inginkan sendiri. Namun orang tua tidak akan lansung melepaskan beban anaknya begitu saja. Mereka akan tetap menyimpan sesuatu untuk anaknya, apabila anaknya butuh keperluan mendadak.
Begitulah orang tua, dia selalu bekorban demi anak-anaknya dan tidak mementingkan dirinya. Dia tidak memikirkan apa yang terjadi padanya nanti, yang terpenting baginya ialah “anaknya tidak menjadi sepertinya”. Setiap orang tua selalu mengharapkan sesuatu hal yang baik bagi anaknya, siapapun dan dikalangan manapaun. Memang mungkin akan ada perbedaan dari setiap yang ditampilkan dan diperlihatkan oleh orang tua pada tiap kalangan. Namun anda sebagai anak jangan beranggapan bahwa orang tua anda baik-baik saja.

C. Pesan Moral Yang dapat Diambil

Pada pemaparan diatas memang orang tua tidak kehilangan tibuhnya dalam bekorban. Namun secara tidak lansung orang tua sudah sama dengan mengorbankan tubuhnya untuk anaknya. Begitu pulala seharusnnya, anak yang telah mengalami kemajuan dan mendapatkan kesuksesan tak seharunnya membiarkan orang tuannya dan mengabaikannnya. Terlebih lagi durhaka kepadannya. Karena orang tua sudah banyak bekorban bagi anaknya. Jangan, ketika anda sudah berada di kelas yang tinggi anda melupakan jasa pensil yang mengajarkan anda menulis. Karena tanpa pensil itu, anda sendiri tidak akan tahu apakah anda bisa seperti ini.

Anda boleh bangga berada di atas yang tinggi, namun anda juga harus tetap menghargai dasar. Karena tanpa daser tersebut anda tidak akan bisa berpijak. Bahkan untuk sebuah pesawat terbangpun yang bisa mengudara dia tetap membutuhkan bandara sebagai dasar untuk dia berpijak. Karena tidak selamanya seseorang itu akan berada di atas.  Oleh kerena itu tahu dirilah

~Afdal Rahendra

Related Posts

Subscribe Our Newsletter

Belum ada Komentar untuk "Belajar Tentang Kehidup Dengan Filosofi Kehidupan Pensil"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel