Kebiasaan Yang Menakutkan | Hati Yang Mati

Kita semua sudah tahu bahwasanya setiap manusia yang lahir ke dunia pasti memiliki hati, namun banyak orang yang hidup dunia tidak memiliki hati. Tidak memiliki hati disini bukanlah dia lahir tanpa organ hati, tetapi dia yang hidup dengan hati yang telah mati, hidup tanpa ada perasaan.

Manusia Dengan Hati Yang Mati

Pernyataan tersebut saya dapatkan dari seseorang yang pernah saya temui, namanya adalah bg Khairul dan dia bekerja di sebuah lembaga kemanusiaan. Saya bertemu dengannya saat mengantarkan jenazah salah satu keluarga saya. Dalam perjalanan saya bercerita panjang lebar dengannya tentang pengalamannya dalam membantu orang-orang. Bg Khairul telah melakukan kegiatan tersebut kurang lebih 5 tahun dan dalam perjalanan 5 tahun tersebut dia telah banyak menemukan suka dan duka di dalamnya. Bahkan tak jarang pula bg Khairul tersebut bertemu dengan hal yang disebut dengan kematian. Namun ada satu pernyataan dari Bg Khairul yang menjadi sebuah pemikiran bagi saya, dia berkata "abg sudah sering melihat hal yang namanya kematian, namun abg sendiri tidak takut akan hal itu. Karena jika waktunya telah tiba manusia pasti akan mati, tetapi yang abg takutkan itu adalah hidup dengan hati yang mati"

Hati yang mati - disini kita bukan bercerita tentang seseorang yang tidak peka akan penderita orang lain atau orang yang tidak mau membantu orang lain. Hati yang mati disini adalah hati yang tidak bisa sedih lagi melihat orang yang disayanginya meninggal, baik itu ayah maupun ibunya. Bg Khairul juga berkata "abg takut karena telah terbiasa melihat kematian, ketika orang tua bg meninggal nanti abg tidak bisa menangis lagi". Jangan berfikiran tidak menangis ketika melihat orang tua kita meninggal adalah sebuah sifat tegar sambung bg Khairul.

Kita harus bisa membedakan antara ikhlas dan hati yang mati. Ikhlas bukan berarti tidak sedih, tetapi ikhlas itu adalah merelakan walaupun banyak tersimpan kedukaaan di hati. Satu hal yang terfikirkan oleh saya dari pernyataan di atas adalah bukankah pada saat sekarang ini banyak orang yang hidup tanpa hati. Kenapa saya berkesimpulan sepeti itu, karena berdasarkan pengamatan saya sendiri, banyak orang pada saat sekarang ini tidak memiliki ketakutan akan kehilangan orang tuanya. Bahkan mereka lebih takut kehilangan orang lain yang belum jelas kedudukannya daripada kehilangan orang tua mereka sendiri. Bahkan dalam kasus yang lebih berat, ada orang yang rela mati-matian demi pasangannya tetapi mereka tidak peduli sama sekali dengan orang tuanya yang sudah jelas-jelas sangat menyayangi dan mencintainya. Bahkan ada orang yang mau berubah demi orang yang disayanginya, melakukan hal positif, negatif, dan berencana panjang dan jauh kedepan. Namun kenapa tidak banyak orang yang mau berfikir/bermimpi jauh kedepan demi orang tua, bagaimana nanti dia bisa membuat orang tuanya senang, bahagia ataupun setidaknya berfikir untuk sedikit membalas jasa yang telah diberikan orang tuanya kepadanya.

Hal tersebut juga dinamakan sebagai HATI YANG MATI. Bagi saya HATI YANG MATI bukan hanya tidak peka akan keluarga dan sesama ataupun dia yang tidak sempati pada orang lain, tetapi HATI YANG MATI menurut saya adalah orang yang tidak lagi memiliki perasaan akan keluarganya, dia tidak merasakan sedih walaupun keluarganya pergi meninggalkannya dan lebih memikirkan apa yang membuatnya senang.

Orang yang suka membantu orang lain atau simpati kepada orang lain dan mau membantu juga belum tentu memiliki hati yang hidup, kenapa seperti itu? Kerena seperti yang kita ketahui di zaman sekarang ini sulit membedakan antara keikhlasan dengan dengan pamer, kebanyakan pada saat ini seseorang itu berbuat karena ada sebab dan akibat dan tak jarang pula seseorang seseorang itu berbuat karena ada tujuan tertentu. Jadi pada saat sekarang ini, sulit untuk membedakan antara seseorang yang benar-benar memiliki hati dan seseorang yang hanya mempermainkan kehidupan atas dasar nurani, dikarenakan yang tahu akan isi HATI itu Allah dan dirinya sendiri.

Pesan moral yang saya dapatkan di sini adalah kita tidak bisa menilai seseorang dari apa yang dilakukannya dan apa yang ditampilkannya saja. Kita juga tidak bisa mengatakan kepada orang lain atau menunjukkan ke orang lain bahwasanya kita itu adalah orang yang memiliki hati, bahkan saya sendiripun masih bertanya-tanya, apakah hati saya hidup? Apakah saya masih memiliki kepekaaan? Apakah saya masih memiliki rasa takut kehilangan orang tua? Seperti yang kita ketahui orang yang baik kepada keluarganya belum tentu bisa baik kepada lingkungannya dan begitu pun sebaliknya, orang yang baik pada lingkungannya belum tentu bisa baik kepada keluarganya. Karena tanpa kita sadari kesibukan telah membuat kita tenggelam kedalam putaran waktu yang membuat kita lupa akan hal yang berharga yang sampai saat ini masih menjadi sesuatu yang sangat dan sangat berharga yaitu Orang Tua. Oleh sebab itu, jagalah selalu hatimu dan terus sirami hatimu dengan kebaikan yang tulus, karena hati bagaikan sebuah tumbuhan yang hidup dengan pupuk kebaikan dan disirami dengan air keikhlasan.

Jadi, jangan pernah berhenti berbuat baik karena tidak ada hal yang salah dari kata baik dan juga  jangan pernah berbuat baik hanya untuk dipandang baik oleh orang lain.

~Afdal Rahendra

Related Posts

Subscribe Our Newsletter

1 Response to "Kebiasaan Yang Menakutkan | Hati Yang Mati"

melchano topandra said...

Artikel nya bagus, berdasarkan wawancara langsung dengan narasumber, saya rasa cukup menarik anda menulis artikel seperti ini

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel